Penurunan Harga Karet

MUARA TEWEH – Sudah sepekan harga karet di seluruh pedalaman Kabupaten Barito Utara (Batara) anjlok. Akibatnya petani karet menjerit. Harga jual karet di tingkat pengepul kini dihargai Rp9.000 per kilogram, dari harga sebelumnya mencapai Rp11.000 per kilogram.

Menurut warga, turunnya harga karet ini sedikit banyak berpengaruh pada sumber penghasilan dan pendapatan masyarakat sehari-hari. “Turunnya harga karet berpengaruh terhadap sandaran utama masyarakat di pedalaman,” ucap Toyu, warga Kecamatan Lahei.

Petani karet lainnya, kondisi demikian hampir dialami semua kecamatan di Batara. Harga karet berkisar sekitar Rp8.000 – Rp9.000 per kilogram di tingkat pembeli atau penampung. “Penurunan harga jual karet karena di pabrik Banjamasin stok karet menumpuk,” terang Wiwi, warga yang berdomisi di Bukit Bambu Kecamatan Teweh Tengah.

Sementara itu, dari Buntok Kabupaten Barito Selatan (Barsel) dikabarkan kualitas dan produksi karet menurun. Hal itu disebabkan, proses pembekuannya, dilakukan di dalam air sehingga kualitas karetnya menjadi rendah. Cara demikian hanya menambahkan berat karet, sementara kualitas karetnya menjadi kurang baik.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Barsel Ir Endang Candramulya, kepada Kalteng Pos (JPNN Grup) mengatakan, semestinya proses pembekuan tidak di air, melainkan dengan memberikan bahan deoraf atau asam semut sebagai campuran khusus untuk pembekuan hasil karet mentah tersebut.

Endang mengatakan, sebenarnya karet yang ada di daerah lain, bahkan yang ada di Kabupaten Barito Selatan ini, seketika keluar dari batang, sama saja kualitasnya. Namun yang menjadi masalah, tambah dia, ketika karet di olah oleh masyarakat, sehingga menjadi karet dengan kualitas baik atau kurang baik.

“Kualitas kurang baik disebabkan petani karet itu sering mencampurnya dengan berbagai benda seperti di campur dengan kulit karet, di campur dengan tanah,” ujarnya. (ner/dad/cah)

(Sumber : http://www.jpnn.com/read/2013/02/09/157693/Harga-Karet-Kembali-Anjlok-)

Teknik Pengolahan Kelapa Sawit

Kelapa-Sawit

Buah kelapa sawit terdiri dari daging buah dan biji. Daging buah kelapa sawit pada proses pengolahannya akan diolah menjadi minyak kelapa sawit mentah atau CPO (Crude Palm Oil), sedangkan biji atau intinya akan diolah menjadi minyak inti sawit atau PKO (Palm Kernel Oil). Pada tahap selanjutnya CPO dan PKO akan diolah kembali menjadi berbagai macam produk.

klp swt

Pengolahan kelapa sawit diawali dengan proses pemanenan. Untuk memperoleh hasil produksi (CPO) dengan kualitas yang baik, pemanenan dilakukan berdasarkan kriteria panen (tandan matang panen)  yaitu dengan melihat jumlah brondolan yang telah lepas atau jatuh dari tandannya.

klpa sawit

Pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) pada umumnya melalui lima tahap yaitu proses perebusan, pemipilan, pengadukan dan pelumatan, pengepresan, dan pemurnian. Pada pengolahan kelapa sawit menjadi PKO setelah proses pengepresan maka terjadi pemisahan antara minyak sawit dengan kernel, sabut dan ampasnya. Biji yang telah dipisahkan dari ampas akan dipisahkan kembali antara inti dan cangkangnya. Inti sawit inilah yang akan diolah menjadi berbagai macam produk turunan. CPO (Crude Palm Oil) menghasilkan lebih banyak produk turunan dibandingkan PKO (Palm Kernel Oil). Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kandungan lemak yang terdapat pada CPO dan PKO.

(Sumber : Makalah Pemanfaatan Hasil Pengolahan Produksi Kelapa Sawit [2012])